| Penulis | : Laksamana Naufal |
| Tebal | : 148 halaman |
| Ukuran | : 15.5 x 23 cm |
| Kertas Isi | : HVS (BW) |
| Sampul | : SF Ivory 250 gr |
| ISBN | : Masih Dalam Pengajuan |
| Versi Ebook | : - |
| Tahun Terbit | : 2026 |
| Penerbit | : Bacaan Media |
Deskripsi:
Untuk pertama kalinya, aku mendengar suara gemuruh yang berbeda di langit. Bapak bilang, itu namanya pesawat, benda yang terbang lebih tinggi dan lebih cepat daripada helikopter. Aku hanya mendongak, mengucap “Oooh,” lalu diam-diam menyimpan satu pertanyaan besar: bagaimana rasanya naik pesawat?
Namun jawaban Bapak justru membuat pikiranku semakin kusut. Katanya, kalau aku rajin belajar dan menjadi pintar, suatu hari aku pasti bisa naik pesawat. Aku tidak mengerti apa hubungan belajar dengan pesawat, sementara Pak Labu yang tidak sekolah pun sudah pernah naik pesawat saat berangkat umrah. Dari satu pertanyaan, lahir pertanyaan lain, lalu semakin banyak hingga memenuhi kepalaku.
Sejak itu, aku merasa terkurung dalam dunia yang sempit, seperti katak dalam tempurung—tetapi tempurungku sudah rusak dan koyak. Rasa ingin tahu yang semula membuatku hidup perlahan berubah menjadi beban. Keningku terus mengerut, tidurku tidak lelap, makanku tidak kenyang. Sampai akhirnya, karena merasa kalah dan buntu, aku memutuskan untuk berhenti.